
“Apapun makanannya, minumnya Teh Botol S**RO!” Beberapa tahun lalu, slogan salah satu minuman terkenal di Indonesia itu sangat happening.
Slogan itu seperti menyadarkan semua orang dengan kebiasaan mereka yang
walaupun memiliki makanan favoritnya masing-masing, mereka satu suara:
minumannya tetap Teh Botol S**RO. Walaupun sudah banyak
merek-merek teh lain, tak ada yang bisa mengalahkan nama besarnya.
Hmm…Percaya nggak kalau slogan yang sama bisa digunakan untuk menyebut
fenomena yang terjadi pada konser-konser musik di Indonesia?
Perhatikan saja…nyaris di
setiap pagelaran musik (yang mungkin kita lihat secara live atau lewat
TV), apapun band yang tampil, siapapun penyanyi yang unjuk gigi,
diantara ribuan penonton yang berjingkrakan, dua bendera kerap
dikibarkan di tengah-tengahnya, bendera SLANK, dan bendera Oi.
Hmm…Band-band baru bermunculan, musisi-musisi baru berdatangan, tapi,
ibarat Teh Botol S**Ro yang sudah begitu melegenda, SLANK dan Iwan Fals
takkan mungkin tergeser dari hati setiap penggemarnya. Betapapun
merk-merk baru mencoba menggoda dan mengalihkan perhatian, manisnya
takkan terganti.
SLANK dan Iwan Fals memang pantas disebut fenomena.
Sampai saat ini, belum ada musisi yang punya penggemar fanatik sebanyak
yang mereka miliki. Tak percaya? Hitung-hitunganan data akan membuktikan
itu. Hingga saat ini SLANK punya fans club yang berdiri di 98 kota di
Indonesia dengan anggota resmi hampir satu juta orang. Kalau penggemar
Iwan Fals yang resmi bergabung dengan Yayasan Orang Indonesia (atau
lebih familiar dengan sebutan Oi) anggotanya memang hanya 350.000 orang,
namun mereka punya angka perkiraan untuk jumlah fals mania (fans Iwan Fals yang belum bergabung dengan Oi), yaitu sekitar 6 juta orang. ”Angka tersebut kita dapat dari rata-rata jumlah fals mania yang datang di setiap acara konser Iwan Fals,” begitu kata Hafiz, Ketua I Badan Pengurus Oi Pusat.
Tidak Sekedar Kumpul-kumpul
Yang luar biasa dari penggemar fanatik itu bukan
hanya jumlahnya, tapi apa yang mereka lakukan. Bunda Iffet, manager
sekaligus ibunda Bimbim (drummer SLANK) yang pertama mencetuskan
pembentukan Slank Fans Club (SFC) boleh berbangga hati dengan anak-anak
binaannya. Mereka bukan hanya sekedar fans-fans yang senang
kumpul-kumpul untuk dengar musik, tapi mereka berkumpul untuk melakukan
sesuatu yang positif. Sejak berdiri tahun 2004, para anggota SFC sering
diperbantukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban konser SLANK di
seluruh Indonesia.
Hingga sekarang, SFC pusat
berkembang menjadi badan usaha swasta mandiri yang memproduksi
pernak-pernik SLANK dengan merekrut karyawan dari kalangan Slankers
sendiri. Laskar yang mereka bentuk dengan nama Bidadari Penyelamat
juga aktif menyalurkan tenaga dan pemikiran mereka untuk membantu
korban-korban bencana alam di Indonesia, bahkan menyediakan mobil
jenazah gratis untuk digunakan masyarakat yang membutuhkan.
Hal yang sama terjadi juga pada Oi.
Yayasan Orang Indonesia punya konsep khusus untuk membina para
penggemar fanatik Iwan Fals tersebut. Mereka menyebut program pembinaan
tersebut sebagai SOPAN, yaitu Seni, Olahraga, Pendidikan, Akhlak, dan
Niaga. Sesuai namanya, kegiatan-kegiatan mereka diarahkan untuk bisa
mengembangkan karakter, dan kemampuan mereka dalam bidang tersebut, dan
tentu saja kemampuan dalam bidang entrepreneurship. Seperti halnya Slankers, Oi pun mengembangkan kreativitasnya dengan memproduksi dan memasarkan pernak-pernik khas Iwan Fals.
Bukti Cinta Mereka
Yang namanya fans,
ada saja kelakuannya. Sekelompok Slankers di wilayah Anyer pernah
digiring ke kantor polisi karena dinilai melanggar Undang-Undang Lambang
Negara no 127/1958 tentang penodaan dan perusakan lambang negara.
Lho-lho, memangnya kenapa? Ternyata, saking kreatifnya dan cintanya
mereka pada Slank, mereka menyablon lambang SLANK di atas bendera merah
putih. Abdee, salah satu personil SLANK menilai itu adalah salah satu
bentuk nasionalisme mereka karena SLANK memang tak pernah berhenti
mengajak para Slankers untuk bangga terhadap bangsa mereka sendiri.
Kecintaan Slankers pada SLANK pun membuat
mereka tergerak dengan banyak hal yang dilakukan idolanya. Bukan hanya
masalah penampilan, tapi juga prinsip dan gaya hidup. Ketika para
personil SLANK berani mengakui ‘keakraban’ mereka dengan zat
psikotropika dan memutuskan untuk sembuh, langkah itu pun diikuti oleh
Slankers. Dalam salah satu momen peringatan Hari Antimadat sedunia,
SLANK mengkampanyekan perang terhadap narkoba, dan dalam momen-momen
tersebut, setidaknya 600 Slankers mendaftar untuk ikut program
rehabilitasi dan bertekad untuk berhenti menggunakan obat-obatan
terlarang itu.
Oi pun tak kalah cinta pada sang idola.
Selain selalu mengibarkan bendera Oi di pertunjukan musik manapun
(bahkan yang tidak ada Iwan Falsnya), secara rutin mereka mengadakan
Jambore Oi yang menjadi ajang para Oi untuk unjuk gigi memperlihatkan
hasil pembinaan konsep SOPAN dan menggelar berbagai kegiatan positif
lainnya. Sadar tentang betapa kuatnya pengaruh Iwan Fals pada Oi, tak
jarang para politikus berusaha untuk menggandeng Oi dan mengajak mereka
untuk ikut berpolitik. Tapi, menurut Hafiz lagi, Oi tetap memutuskan
untuk menjadi organisasi massa saja karena selain tetap bisa berada pada
posisi netral untuk mengkritisi berbagai isu-isu yang berkembang di
negara ini, menjadi organisasi massa akan lebih bermanfaat bagi
masyarakat luas bila dibandingkan sebagai organisasi politik seperti
Partai.
Mengapa?
Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa cinta
Slankers dan Oi bisa sebesar itu? Secara ilmiah, musik memang terbukti
memiliki pengaruh motorik fisik yang bisa berpengaruh juga pada sisi
psikologis. Selain kemasan melodi yang khas, dan kharisma yang mereka
punya, apa yang disuguhkan oleh SLANK dan Iwan Fals dianggap menyentuh
segi-segi kehidupan yang selama ini terabaikan. Mereka banyak
menyuarakan hal-hal yang kecil yang selama ini luput dari perhatian
banyak orang. Lirik-lirik sederhana yang mereka buat dianggap mewakili
kaum marjinal. Yang jelas, dalam banyak momen, cara mereka berinteraksi
dengan para penggemarnya, menganggap mereka sebagai sahabat untuk
berdiskusi, dan tanpa ada batasan idola-penggemar bisa melengkapi
berbagai alasan mengapa mereka begitu dicintai. Jadi, betapapun yang
muda-muda bermunculan, tetap belum ada yang sedahsyat mereka.
0 komentar:
Posting Komentar